Starbucks Diboikot, Sekalian Saja Facebook dan Google Juga, Jangan Konsumtif Contohlah Jokowi
Sumber : SEWORD.COM
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel
Dibaca: 43 kali

Fenomena boikot memboikot, sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kali ini, seruan boikot ditujukan kepada gerai kopi asal Amerika, Starbucks. Seruan boikot terkait pernyataan dari sang CEO yang mendukung LGBT

Bahkan Pimpinan Pusat Muhammadiyah meminta pemerintah mencabut izin operasional Starbucks di Indonesia. Di sini saya tidak akan mengomentari masalah setuju dan tidak setuju akan tindakan boikot terhadap starbucks tersebut, tetapi marilah kita sama-sama berfikir mengenai fenomena boikot yang sering diserukan di negara kita, dari roti sampai kopi.

Seruan boikot tebang pilih

Masalah LGBT, sebelumnya bukan hanya CEO dari Starbucks saja yang ingin memberikan hak sama sebagai manusia. Perusahaan-perusaahan seperti Microsoft, Aplle, Facebook, dan beberapa perusahaan besar lainnya juga melakukan hal yang sama.

Ini bukan mempersoalkan menyetuji atau tidak soal LGBT, tetapi cenderung kepada  memberikan hak yang sama. Tetapi mengapa hanya Starbucks saja yang diserukan untuk diboikot? Mengapa facebook juga tidak diboikot? Secara terang-terangan, bos facebook  Mark Zuckerberg dan beberapa pegawainya mengikuti sebuah karnaval dan mengikuti long march Lesbian Gay Bisexual Transgender Pride Celebration yang diadakan di  San Francisco, California . Acara tersebut memang diadakan untuk mengenalkan kaum gay lebih dekat (30/6/2013)

Selain Facebook, hadir juga beberapa perusaahaan IT asal Sillicon Valley yang mengikuti Karnaval tersebut, diantaranya adalah, Aplle dan Google. Tetapi, mengapa mereka tidak diboikot ?

Jangan membuat kisruh, contohlah Jokowi

Secara pribadi, saya sangat setuju upaya memboikot gerai kopi asal amerika tersebut, tetapi dengan motivasi yang berbeda, karena saya lebih suka warung kopi asli Indonesia.

Boikot, ya boikot saja, tetapi tidak perlu memaksa pemerintah untuk mencabut izinnya, toh starbucks bukan jualan narkoba. Presiden Jokowi juga telah memberi contoh, jika ingin memboikot tidak usah koar-koar, cukup tidak usah ngopi di Starbucks seperti yang dilakukannya.

Seperti yang dilansir laman kompas.com, presiden Jokowi bersama keluarga mengisi akhir pekan Minggu (2/7/2017) siang, dengan acara ‘ngopi’. Tempat mereka ngopi, tentu saja bukan starbucks, tetapi di kedai kopi yang namanya Indonesia banget, yaitu kedai tuku.

Jadi tidak usahlah DPR ikut membuat kisruh dengan mendukung pemboikotan yang tebang pilih.  Perlu diingat juga, di starbucks juga ada karyawan yang notabene adalah warga Indonesia, apakah DPR mau menanggung biaya hidup mereka?

Gay ini yang berjasa untuk cikal bakal komputer

Sebagai orang yang normal, saya juga tidak setuju LGBT. Boleh saja tidak suka dengan LGBT, tetapi yang perlu diingat, mereka juga manusia yang harus dimanusiakan, dan juga memiliki hak yang sama dengan kita yang normal. Manusia normal juga, belum tentu lebih baik dan berguna dari LGBT. Yang paling penting, tidak ada pemaksaan kehendak yang berakibat merugikan orang lain.

Perlu diketahui, seorang yang berjasa  pertama kali memikirkan tentang komputer adalah seorang gay, orang tersebut bernama Alan Turing. Pria asal London yang lahir 23 Juni 1912 ini, selain sebagai peneliti matematika dan komputer, dia juga merupakan pahlawan perang Inggris karena dia memiliki peran penting untuk megurai pesan yang dienkripsi oleh mesin Enigma Jerman, dan menyediakan data intelijen penting bagi Sekutu  saat perang dunia ke dua berlangsung.

Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, produktif dulu baru ngomong boikot

Entah mengapa, negara kita saat ini banyak sekali orang-orang yang mengganggap diri suci dan paling bermoral, tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Gubernur mendapat penghargaan memiliki akhlak baik, ternyata korupsi, elit politik di iklan “katakan tidak pada korupsi” tetapi pada kenyataannya diciduk KPK, ketua ormas yang katanya benci maksiat, malah tersangkut kasus pornografi.

Para elit dan tokoh negeri seharusnya berkaca, mengapa pada pemerintahan Jokowi semua sering membuat kisruh ditengah kerja keras pemerintahan membangun bangsa. Padahal pada zaman  sebelum Jokowi, semua juga sudah terjadi, seperti perusahaan yang menyetujui adanya LGBT, tetapi mengapa mereka diam saja? Apa maksudnya ini?

Jika kita mau memboikot semua produk dari luar, seharusnya kita lebih produktif, tidak selalu ribut dengan masalah yang remeh temeh. Bisa dibayangkan, negara-negara maju sudah mulai memikirkan bagaimana menjelajah angakasa, tetapi kita masih sibuk mengurusi, hari valentine haram dan ngoparngapirin orang.

Program Absensi Siswa / Androiid
JL. Kalapanunggal, Kabapaten Sukabumi
0852-1082-9850 / 0815-2910-1866
Statistik User

    038157

    Pengunjung hari ini : 20
    Total pengunjung : 8434
    Hits hari ini : 99
    Total Hits : 38157
    Pengunjung Online : 2
Polling

    Bagaimana menurut anda Newssmi?

    Objetifikasitkah Berita Kami
    Puaskah Anda Dengan Kami

    Lihat Hasil Poling
Program Absensi Siswa / Androiid
JL. Kalapanunggal, Kabapaten Sukabumi
0852-1082-9850 / 0815-2910-1866
Download
Copyright © 2017 News SMI All rights reserved.
Design & Server : Bara Cipta Media